Pernah nggak sih, lo merasa kayak ada tekanan untuk selalu kelihatan baik-baik aja, bahkan di situasi yang sebenarnya bikin lo pengen teriak? Ya, mungkin lo nggak sadar, tapi ini tuh salah satu bentuk toxic positivity yang sering dialami banyak cowok. Apa itu toxic positivity? Singkatnya, ini adalah tekanan untuk selalu bersikap positif, walaupun lo lagi dalam kondisi mental yang hancur lebur. Kayak, lo harus tegar, optimis, atau malah pura-pura semuanya baik-baik aja, padahal nggak.
Sebagai cowok, kita sering tumbuh dalam budaya yang ngajarin kalau "cowok nggak boleh nangis" atau "cowok itu harus kuat." Dari kecil, kita dibiasain buat nutupin perasaan sedih atau kecewa karena takut dianggap lemah. Nah, toxic positivity ini adalah bagian dari pola pikir yang nge-perpetuate (memperkuat) tekanan itu.
Bayangin ini: lo lagi kehilangan sesuatu yang penting, entah pekerjaan, pacar, atau bahkan anggota keluarga. Lalu, temen lo datang dan bilang, "Ya udah, bro, jangan sedih. Nanti juga semua bakal baik lagi." Keliatannya kayak dukungan, kan? Tapi, sebenarnya, itu bisa jadi bikin lo merasa kayak apa yang lo rasain nggak valid atau nggak penting. Perasaan lo jadi dipaksa buat skip proses alami dari rasa sakit ke pemulihan, dan ini nggak sehat sama sekali.
Cowok dan Stereotip "Harus Kuat"
Di masyarakat, cowok sering dianggap sebagai "pilar" atau "sandaran" yang nggak boleh rapuh. Stereotip ini bikin banyak dari kita ngerasa malu buat ngungkapin perasaan. Kalo lo nangis, lo bakal dianggap "lemah." Kalo lo cerita ke temen tentang masalah lo, lo malah takut di-judge kayak orang yang nggak bisa ngatasin hidup sendiri. Akhirnya, lo memilih untuk pura-pura semuanya baik-baik aja.
Tapi bro, mari jujur. Apakah itu bikin lo benar-benar ngerasa lebih baik? Atau malah bikin lo capek karena harus terus pakai topeng?
Toxic positivity ini sering muncul dalam bentuk-bentuk kayak:
- "Jangan dipikirin, bro. Masih banyak yang lebih parah."
- "Lo harus kuat. Ini cuma ujian kecil."
- "Udah, move on aja."
Kalimat-kalimat ini mungkin maksudnya baik, tapi kenyataannya nggak semua masalah bisa diselesaikan dengan sekedar "berpikir positif." Kadang, kita perlu duduk, merasakan emosi itu, dan ngasih waktu buat diri sendiri buat memproses semuanya.
Toxic Positivity Buat Cowok
Toxic positivity itu nggak cuma ngeganggu mental lo, tapi juga bisa berdampak ke fisik lo. Ketika lo terus-terusan memendam emosi, itu bakal bikin stress lo menumpuk. Stress ini, kalau dibiarkan, bisa memengaruhi kesehatan fisik, mulai dari insomnia, tekanan darah tinggi, sampai masalah pencernaan.
Lebih dari itu, toxic positivity bikin lo merasa kesepian. Lo jadi ngerasa nggak ada ruang buat jujur sama orang-orang di sekitar lo. Ketika lo mulai percaya bahwa lo harus "tegar" dan "baik-baik aja" sepanjang waktu, lo secara nggak sadar menarik diri dari kesempatan buat dapet dukungan emosional yang sebenarnya lo butuhin.
Dan parahnya lagi, hal ini bisa bikin lo jadi overkompensasi. Misalnya, lo ngerasa ada tekanan buat selalu tampil "hebat" dan "sempurna" di mata orang lain. Akibatnya, lo mungkin mulai terlalu keras sama diri sendiri. Lo ngerasa harus lebih sukses, lebih kuat, dan lebih bahagia dari siapa pun. Padahal di balik itu semua, lo cuma manusia biasa yang butuh jeda.
Cowok Jadi Korban Toxic Positivity?
Salah satu alasan utama adalah budaya patriarki yang udah mengakar. Dari kecil, banyak cowok diajari buat nggak terlalu terhubung dengan sisi emosional mereka. Nangis? Itu tabu. Takut? Nggak boleh. Sedih? Tahan aja. Budaya ini nggak cuma bikin cowok sulit buat mengenali emosinya sendiri, tapi juga bikin orang-orang di sekitar mereka nggak tahu gimana caranya ngedukung dengan cara yang benar.
Ada juga pengaruh media. Film, lagu, dan iklan sering banget menggambarkan cowok sebagai pahlawan yang selalu punya solusi buat semua masalah. Citra ini, meski keren buat dilihat, sebenarnya nggak realistis. Dan ketika kita nggak bisa memenuhi ekspektasi itu, rasanya kayak gagal jadi "pria sejati."
Menerima Realita Itu Bukan Menyerah
Bro, penting buat ngerti kalau menerima realita dan jujur sama perasaan lo itu bukan berarti lo lemah. Malah, itu adalah langkah pertama buat jadi cowok yang lebih kuat secara emosional. Kadang, lo harus berhenti sejenak dan bilang ke diri sendiri, "Gue nggak baik-baik aja sekarang, dan itu nggak apa-apa."
Ketika lo mengakui perasaan lo, itu bukan tanda kelemahan. Itu tanda kalau lo cukup berani buat menghadapi apa yang ada di depan lo. Dan, lo nggak harus sendirian dalam perjalanan ini. Bicara sama temen, keluarga, atau bahkan profesional, itu langkah yang besar. Jangan biarkan stigma atau rasa malu bikin lo nahan semuanya sendiri.
Cara Lepas dari Toxic Positivity?
Yang pertama, berhenti mencoba untuk selalu terlihat kuat. Nggak apa-apa buat ngasih tahu orang lain kalau lo lagi nggak baik-baik aja. Kalau lo terus pura-pura semuanya oke, itu cuma bakal bikin lo tambah tertekan.
Kedua, kasih waktu buat diri sendiri. Lo boleh sedih, marah, atau kecewa. Jangan buru-buru memaksa diri buat "move on." Proses healing itu butuh waktu, dan itu wajar.
Ketiga, cari lingkungan yang mendukung. Temukan orang-orang yang nggak cuma bilang "semangat," tapi juga mau dengerin cerita lo tanpa nge-judge. Temen yang beneran peduli itu nggak akan nuntut lo buat pura-pura happy.
Dan terakhir, belajar buat mengenali emosi lo. Kadang, cowok kesulitan buat ngerti apa yang sebenarnya mereka rasain karena udah terbiasa memendam semuanya. Cobalah untuk lebih peka sama diri sendiri. Kalau lo marah, tanyain ke diri lo sendiri: kenapa? Kalau lo sedih, coba cari tahu sumbernya. Dengan begitu, lo bakal lebih mudah buat ngelola emosi lo.
Cowok Juga Berhak Untuk Jujur
Bro, nggak ada yang salah sama lo kalau lo ngerasa sedih, lelah, atau bahkan rapuh. Jangan biarkan stigma toxic positivity bikin lo kehilangan kesempatan untuk menjadi diri sendiri. Lo nggak harus selalu kuat. Kadang, kekuatan itu justru ada di keberanian untuk mengakui kelemahan lo.
Dunia ini butuh lebih banyak cowok yang berani jujur tentang apa yang mereka rasain. Karena, percaya atau nggak, kejujuran lo bisa menginspirasi orang lain buat berhenti berpura-pura. Jadi, buang jauh-jauh tekanan buat selalu positif, dan mulai jujur sama diri sendiri. Itulah cara lo benar-benar jadi kuat.